Faktor lain yang setara dengan logika adalah pembuatan keputusan. Ini
sudah kita bicarakan panjang lebar. Ada orang2 yang secara alamiah mudah
membuat keputusan ada yang sulit.
Mereka yang sulit harus melakukan proses belajar untuk membuat keputusan dan ini makan waktu.
Sifat
desisif berkorelasi dengan kepemimpinan. Semua orang yang desisif tidak
kesulitan memimpin tetapi jangan dibalik. Tidak semua pemimpin desisif.
Ada, walau tidak banyak pemimpin2 yang kurang desisif. Dari 5 presiden
RI yang kurang desisif ada dua, Habibi & Megawati. BK, HM Suharto,
dan Gus Dur desisif semua. SB Yudhoyono dinilai banyak pihak kurang
desisif. Paling desisif adalah HMS.
Seorang yang desisif adalah
mereka yang bisa dengan cepat dan tegas membuat keputusan. Dan sesudah
keputusan dibuat mereka (cenderung) mempertahankan keputusannya. Jadi,
begitulah cara membuat keputusan. Buatlah keputusan dengan tegas, ...
bum, .... lantas ngutot mempertahankan keputusan. Jika ada yang ngutik2
keputusan, umumnya mereka 'gusar'. Sisi gelap dari watak desisif adalah
keputusan2 yang prematur atau terlalu dini. Jika extrim menjadi sikap
gegabah. Kecepeten membuat keputusan sehingga keputusan menjadi kurang
mateng.
Berkebalikan dengan itu, ada yang senantiasa me-nunda2
membuat keputusan. Maunya cari alternatip2 yang lebih baik, data2 yang
lebih segar, situasi2 yang lebih pas, dll. Akibatnya mereka menjadi
peragu. Sering gójag gajeg. Ini kurang disukai dalam manajemen. Walaupun
keputusan salah, M harus membuat keputusan. Kita HARUS membuat
keputusan.
In any moment of decision the best thing you can do
is the right thing, the next best thing is the wrong thing, and the
worst thing you can do is nothing. Theodore Roosevelt
Momen
terbaik adalah keputusan yang benar, berikutnya - keputusan yang keliru,
dan yang terburuk adalah mrongos thok alias tidak membuat keputusan.
Kepemimpinan ada banyak sekali definisinya. Ada yang disebut pemimpin alamiah. Inipun banyak definisinya.
Ada
orang2 yang secara alamiah desisif, yang menurut MBTI mereka adalah
'pemimpin alamiah'. Jika begitu syarat menjadi pemimpin adalah desisif ?
Sayangnya, pernyataan ini tidak selalu sahih. Lihatlah Megawati, ia
sering ragu dalam wujud diam membisu. Bisa jadi ia terpelanting menjadi
pemimpin bukanlah karena wataknya yang desisif tetapi semata2 karena
karisma bapaknya. Jadi bagaimana ? Walau untuk menjadi pemimpin tak
harus desisif, lebih aman kita menurunkan rumus bahwa memiliki sifat
desisif mengurangi kesulitan memimpin. Berikut ilustrasi yang
menggambarkan keterkaitan antara sikap desisif dan kepemimpinan
'alamiah'. Waktu itu Gemblong (saya) baru mendapat penugasan di
Malaysia dan karena masih baru, masih thingak thinguk yang menimbulkan
kesan ragu2. Gemblong memutuskan pekerjaan A dikerjakan seorang
staffnya.
"Bung, tolong kerjakan pekerjaan-A"
"Wah, saya sedang mengerjakan pekerjaan B"
"Tinggalkan pekerjaan B, lakukan yang A"
"Kalau bapak mau, silahkan bapak kerjakan sendirilah"
"We,
lha dhalah ââ¬Â¦.. " Gemblong membatin " ââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦. Kok
membangkang ? " Gemblong tanpa banyak teori2 bereaksi secara alamiah,
memakai akal sehat
"Jika ini bisa saya kerjakan sendiri, apa gunanya bung disitu ?"
"Bapak kerjakan yang itu sendirilah"
Tiba2 suara Gemblong menjadi 'berat' dan dengan mengatupkan rahang ia berkata
"Bung tidak diperlukan disini, silahkan keluar"
"Bapak tak bisa se-wenang2 seperti itu, ââ¬Â¦. "
Dengan
bergegas Gemblong mendekati pintu keluar, tangannya menuding arah
keluar dan dengan suara mengguntur ia membentak : K E L U A R !
Proses
pengusiran itu berlangsung 'alamiah'. Gemblong efortlessly (tanpa
upaya) melakukan apa yang harus dilakukan dengan mudah. Sebenarnya ia
hanya desisif, 'bersikeras' pekerjaan-A dikerjakan dulu, disertai akal
sehat sederhana, ââ¬Â¦. Jika ini kukerjakan sendiri - buat apa kau
disitu ? Tanpa kesengajaan kewibawaan Gemblong melalui sikapnya yang
desisif, tanpa keraguan, telah mendongkrak wibawanya secara drastis.
Beberapa detik kemudian, setelah pengusiran Gemblong dengan santun mendekati staff yang lain
"Bung sibuk ?"
"Nggak pak, ââ¬Â¦.. sini saya kerjakan pekerjaan-A"
Beberapa
saat kemudian, Gemblong telah secara aklamasi diterima sebagai
pemimpin. Seterusnya ia tak lagi kesulitan melakukan pekerjaan memimpin.
Perintah2nya berjalan dan ia bisa melakukan perintah2nya dengan santun,
lembut, tanpa menggertakkan rahang unjuk 'garang'.