Wednesday, October 8, 2014

Keputusan dan Kepemimpinan+desisif

Faktor lain yang setara dengan logika adalah pembuatan keputusan. Ini sudah kita bicarakan panjang lebar. Ada orang2 yang secara alamiah mudah membuat keputusan ada yang sulit.
Mereka yang sulit harus melakukan proses belajar untuk membuat keputusan dan ini makan waktu.

Sifat desisif berkorelasi dengan kepemimpinan. Semua orang yang desisif tidak kesulitan memimpin tetapi jangan dibalik. Tidak semua pemimpin desisif. Ada, walau tidak banyak pemimpin2 yang kurang desisif. Dari 5 presiden RI yang kurang desisif ada dua, Habibi & Megawati. BK, HM Suharto, dan Gus Dur desisif semua. SB Yudhoyono dinilai banyak pihak kurang desisif. Paling desisif adalah HMS.

Seorang yang desisif adalah mereka yang bisa dengan cepat dan tegas membuat keputusan. Dan sesudah keputusan dibuat mereka (cenderung) mempertahankan keputusannya. Jadi, begitulah cara membuat keputusan. Buatlah keputusan dengan tegas, ... bum, .... lantas ngutot mempertahankan keputusan. Jika ada yang ngutik2 keputusan, umumnya mereka 'gusar'. Sisi gelap dari watak desisif adalah keputusan2 yang prematur atau terlalu dini. Jika extrim menjadi sikap gegabah. Kecepeten membuat keputusan sehingga keputusan menjadi kurang mateng.

Berkebalikan dengan itu, ada yang senantiasa me-nunda2 membuat keputusan. Maunya cari alternatip2 yang lebih baik, data2 yang lebih segar, situasi2 yang lebih pas, dll. Akibatnya mereka menjadi peragu. Sering gójag gajeg. Ini kurang disukai dalam manajemen. Walaupun keputusan salah, M harus membuat keputusan. Kita HARUS membuat keputusan.

In any moment of decision the best thing you can do is the right thing, the next best thing is the wrong thing, and the worst thing you can do is nothing. Theodore Roosevelt

Momen terbaik adalah keputusan yang benar, berikutnya - keputusan yang keliru, dan yang terburuk adalah mrongos thok alias tidak membuat keputusan.

Kepemimpinan ada banyak sekali definisinya. Ada yang disebut pemimpin alamiah. Inipun banyak definisinya.

Ada orang2 yang secara alamiah desisif, yang menurut MBTI mereka adalah 'pemimpin alamiah'. Jika begitu syarat menjadi pemimpin adalah desisif ? Sayangnya, pernyataan ini tidak selalu sahih. Lihatlah Megawati, ia sering ragu dalam wujud diam membisu. Bisa jadi ia terpelanting menjadi pemimpin bukanlah karena wataknya yang desisif tetapi semata2 karena karisma bapaknya. Jadi bagaimana ? Walau untuk menjadi pemimpin tak harus desisif, lebih aman kita menurunkan rumus bahwa memiliki sifat desisif mengurangi kesulitan memimpin. Berikut ilustrasi yang menggambarkan keterkaitan antara sikap desisif dan kepemimpinan 'alamiah'.  Waktu itu Gemblong (saya) baru mendapat penugasan di Malaysia dan karena masih baru, masih thingak thinguk yang menimbulkan kesan ragu2. Gemblong memutuskan pekerjaan A dikerjakan seorang staffnya.

"Bung, tolong kerjakan pekerjaan-A"
"Wah, saya sedang mengerjakan pekerjaan B"
"Tinggalkan pekerjaan B, lakukan yang A"
"Kalau bapak mau, silahkan bapak kerjakan sendirilah"

"We, lha dhalah ….. " Gemblong membatin " ……. Kok membangkang ? " Gemblong tanpa banyak teori2 bereaksi secara alamiah, memakai akal sehat

"Jika ini bisa saya kerjakan sendiri, apa gunanya bung disitu ?"
"Bapak kerjakan yang itu sendirilah"

Tiba2 suara Gemblong menjadi 'berat' dan dengan mengatupkan rahang ia berkata
"Bung tidak diperlukan disini, silahkan keluar"
"Bapak tak bisa se-wenang2 seperti itu, …. "

Dengan bergegas Gemblong mendekati pintu keluar, tangannya menuding arah keluar dan dengan suara mengguntur ia membentak : K E L U A R !

Proses pengusiran itu berlangsung 'alamiah'. Gemblong efortlessly (tanpa upaya) melakukan apa yang harus dilakukan dengan mudah. Sebenarnya ia hanya desisif, 'bersikeras' pekerjaan-A dikerjakan dulu, disertai akal sehat sederhana, …. Jika ini kukerjakan sendiri - buat apa kau disitu ? Tanpa kesengajaan kewibawaan Gemblong melalui sikapnya yang desisif, tanpa keraguan, telah mendongkrak wibawanya secara drastis.

Beberapa detik kemudian, setelah pengusiran Gemblong dengan santun mendekati staff yang lain
"Bung sibuk ?"
"Nggak pak, ….. sini saya kerjakan pekerjaan-A"

Beberapa saat kemudian, Gemblong telah secara aklamasi diterima sebagai pemimpin. Seterusnya ia tak lagi kesulitan melakukan pekerjaan memimpin. Perintah2nya berjalan dan ia bisa melakukan perintah2nya dengan santun, lembut, tanpa menggertakkan rahang unjuk 'garang'.

No comments:

Post a Comment